Kurva Covid-19 Terus Meningkat, Rencana Pembukaan Sekolah 2021 Tuai Polemik

Bahaya pembukaan sekolah di tengah wabah Covid-19. Sumber foto: m.rri.co.id


Menjelang akhir tahun, kurva Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) saat ini masih terus meningkat. Hal tersebut pun mendapatkan berbagai respon dari masyarakat terkhusus para orang tua dan guru, perihal pembukaan sekolah pada awal 2021 mendatang, yang sejak lalu direncanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Lantas, apakah kebijakan rencana pembukaan sekolah di awal 2021 sudah tepat untuk dilakukan pada kondisi saat ini?

Salah satu guru Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengajar di kawasan Jakarta Timur, Sutrini mengatakan, dirinya masih meragukan rencana pembukaan sekolah pada awal 2021, karena saat ini kurva Covid-19 masih meningkat secara terus menerus. Keadaan sekolah dikhawatirkan tidak dapat menjamin kesehatan baik anak-anak maupun para guru yang mengajar.

“Kita tidak bisa mengetahui kemungkinan munculnya klaster baru dalam lingkungan sekolah. Kesehatan anak-anak dan para guru merupakan hal terpenting dalam pembukaan sekolah tatap muka diawal 2021 nanti. Diharapkan pemerintah dapat mengkaji ulang mengenai hal tersebut dengan menimbang konsekuensi yang ada,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, jika rencana tersebut pun nanti tetap direalisasikan, maka banyak hal yang harus dipersiapkan, segala fasilitas kesehatan harus terpenuhi secara lengkap untuk melindungi setiap warga sekolah. Mulai dari hand sanitizer, pemasangan area wajib masker, tersedianya alat cek suhu tubuh, maupun fasilitas lainnya.

“Memang pemerintah menimbang adanya rencana pembukaan sekolah dikarenakan dampak yang tidak baik bagi anak murid jika terlalu lama belajar di rumah, namun hal tersebut juga harus diimbangi dengan pemenuhan segala kebutuhan maupun fasilitas kesehatan yang lengkap. Selain itu, persetujuan orang tua serta adanya kelengkapan riwayat atau data kondisi lingkungan murid juga menjadi hal penting,” jelasnya.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK), Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), semester lima, Hadiyatun Nadiyah mengatakan, sebenarnya dalam pembelajaran baik secara daring maupun tatap muka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, harus dilihat kembali mengenai persiapan pemerintah dalam menjamin kesehatan warga sekolah, jika pembukaan sekolah akan dilaksanakan nanti.

“Jika pemerintah tetap melaksanakan kebijakan sekolah secara tatap muka, maka kewajiban 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak),  serta mengkondisikan tata kelas agar tetap mematuhi protokol kesehatan yang merupakan kunci agar tidak ada klaster baru yang muncul,” jelasnya.

Dirinya menegaskan, pemerintah harus memperhatikan keadaan sekolah dan yang paling penting adalah protokol kesehatan yang harus tegas. Disamping itu, hal yang harus diperhatikan juga oleh sekolah saat tatap muka nanti adalah jangan terlalu memaksakan para pelajar dengan pelajaran yang sulit, karena itu merupakan masa transisi dari pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka.

(Rasya Azzahra)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *