Sering Disalahgunakan, Kenali Obat Benzodiazepine

Ilustrasi obat benzodiazepine, sumber: Kompas.com


Balamuda tahu gak sih, ternyata selain ganja, heroin, sabu-sabu, dan ekstasi, ada benzodiazepine yang tak kalah populer dibanding dengan jenis narkotika lainnya. Benzodiazepine yang lebih dikenal dengan benzo, dikembangkan pertama kali pada akhir tahun 1940-an. Benzo masuk ke dalam golongan psikotropika yang juga sering disalah gunakan oleh masyarakat, sehingga termasuk ke dalam jajaran narkotika.

Melansir dari alodokter.com, Benzo masuk ke dalam sedatif yang dapat digunakan dalam pengobatan jangka pendek, untuk masalah gangguan kecemasan (anxiety disorder), serangan panik, kaku otot, insomnia, kejang, status epileptikus, atau sindrom putus alkohol. Selain itu, obat ini juga sering digunakan sebagai penenang sebelum operasi.

Melansir dari cnnindonesia.com yang bersumber dari Medical News Today, benzo bekerja dengan meningkatkan efek gamma-aminobutyric acid (GABA) yang merupakan neurotransmitter penenang miliaran sel otak yang merespons sinyal-sinyal. GABA akan mengurangi kerja neurotransmitter yang berfungsi membawa pesan ke sistem syaraf, sehingga menjaga otak dalam keadaan lebih tenang.

Namun, meskipun masuk ke dalam obat penenang, benzo tidak bisa digunakan tanpa resep dan pengawasan dokter, karena benzo berisiko menyebabkan ketergantungan, yang dapat menimbulkan masalah pada tubuh, sehingga orang yang mengonsumsi benzo tanpa pengawasan dikatakan sebagai tindakan yang ilegal atau penyalahgunaan obat.

Apa saja sih, efek dari mengonsumsi benzo?

Beberapa efek samping dari mengkonsumsi benzo jika tanpa pengawasan di antaranya; menimbulkan rasa kantuk, kepala sakit atau pusing, mual dan muntah, mulut kering, konstipasi (sembelit), linglung, gangguan ingatan, berat badan bertambah. penyakit kuning, dan tekanan darah rendah.

Selain itu, jika seseorang sudah ketergantungan mengonsumsi benzo, maka dapat berefek lebih parah, di antaranya; kejang, pingsan muncul pikiran atau upaya bunuh diri, denyut jantung lebih cepat atau lambat, gangguan pernasapasan, hingga akathisia (gangguan gerak tubuh). Serem ya Balamuda!

Nah, maka tak jarang, banyak pesohor atau figur publik di Indonesia yang menggunakan benzo sebagai dalih untuk menjaga kestabilan emosional atau obat penenang tanpa anjuran dokter, sehingga hal itu dianggap sebagai penyalahgunaan narkotika dan harus berurusan dengan badan hukum.

Sudah sepatutnya Balamuda dan seluruh masyarakat Indonesia lebih waspada dengan penyalagunaan narkotika, karena efek yang dihasilkan berjangka panjang dan sangat merugikan di masa depan. Yuk, ajak orang di sekitar kita untuk selalu menerapkan pola hidup sehat dan menjauhi obat-obatan terlarang.

(Delima Luzen Ahmad)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *