Pro Kontra Pembukaan Tempat Wisata di Tengah Larangan Mudik

Ilustrasi masyarakat sedang berwisata di pantai. Sumber foto: m.rri.co.id


Pemerintah secara resmi melarang aturan mudik lebaran 2021 guna menekan laju Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Namun pada kebijakan lain, pemerintah justru memperbolehkan tempat wisata dibuka saat lebaran. Pemerintah menilai, alasan tetap dibukanya tempat wisata yaitu agar masyarakat bisa menikmati wahana, akibat dilarangnya mudik. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah tersebut pun menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Kesejahteraan Sosial (Kessos), Khosyi Muttaqien menuturkan, peraturan tersebut dianggap sebagai suatu kebijakan yang kontradiktif karena bertentangan dengan aturan sebelumnya, sehingga mendapatkan beragam respon pro dan kontra dari masyarakat.

“Dengan adanya berbagai respon di kalangan masyarakat, pemerintah pun membuat aturan baru dimana hanya penduduk asli setempat atau pendudukan dalam kota yang diperbolehkan wisata. Jika pengunjung dari luar kota melakukan wisata, dikhawatirkan akan membahayakan dan menambah laju penyebaran Covid-19. Namun hal itu perlu pengawasan ketat bagi masyarakat agar tetap menjalankan Protokol Kesehatan (Prokes),” tuturnya.

Wakil HMPS Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Faieq mengatakan, adanya kebijakan diperbolehkannya berwisata menjadi tolak ukur yang inkonsistensi yang dirasa kurang tepat. Dirinya kurang setuju meskipun pemerintah mengimbau agar tetap memberlakukan prokes.

“Nampaknya aturan prokes masih banyak diabaikan pengunjung. Apalagi momen saat liburan panjang pastinya cukup ramai, dan berdampak pada kenaikan kasus Covid-19. Untuk itu, wisatawan diharapkan harus lebih disiplin dalam meningkatkan kesadaran mengenai prokes,” pungkasnya.

(Devi Sylvia Hasanah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *