Hari Puisi Nasional: Apresiasi Penyair sebagai Bentuk Eksistensi Kesusastraan Indonesia

Hari Puisi Nasional. Sumber foto: denverpost.com


28 April diperingati sebagai Hari Puisi Nasional dengan tujuan untuk mengenang wafat penyair terkemuka, sekaligus penulis hebat dan produktif Indonesia, Chairil Anwar. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, dan juga Prancis, serta menjadi tanda peralihan dari era pujangga baru menuju angkatan 45 yang modern.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Ahdimas Husnus Khotami menuturkan, puisi memiliki peran penting dalam sejarah, seni, dan budaya masyarakat. Menurutnya, perayaan puisi nasional merupakan bentuk apresiasi bangsa untuk para pegiat sastra, terutama kaum penyair, sehingga menjadi sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia.

“Ada sebait puisi yang harus menjadi renungan di tengah pandemi, yakni karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul ”Pagi Indonesia”, alasannya karena puisi tersebut mempunyai makna kesederhanaan, dalam menjalankan tugas dan kerja dengan segala keikhlasan hati di tengah pandemi saat ini,” tuturnya.

Anggota HMPS PBSI, Hikmawaty mengungkapkan, lewat puisi, banyak hal yang dapat dituangkan dalam cerita sekaligus bermain dengan diksi, berangan dengan majas, dan beralun dengan rima. Selain itu, peran puisi juga sebagai bentuk penenang kehidupan seseorang.

“Dengan mengenang penyair-penyair Indonesia, kita mampu menghasilkan karya untuk eksistensi kesusastraan Indonesia. Sebab di era modern, banyak ide-ide kreativitas yang dapat dilakukan, misalnya perlombaan gelar wicara, seminar, penghargaan kepada penyair, serta segala bentuk apreasiasi terhadap kepenyiaran Indonesia,” pungkasnya.

(Luya Alawiya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *