Kebocoran Data Kembali Terjadi, Waspadai Adanya Kejahatan Siber

Ilustrasi kejahatan siber. Sumber foto: cnnindonesia.com


Kasus kejahatan siber di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terus mengalami kenaikan, salah satunya kebocoran data pribadi ratusan juta warga Indonesia. Tercatat dalam Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditipidsiber) 2020-2021, terdapat 1.048 kasus konten provokatif, 649 kasus penipuan online, 208 kasus pornografi, 138 kasus akses ilegal, manipulasi data 71 kasus, serta 39 kasus pencurian identitas.

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Dr. Suhaimi, M.Si., mengatakan, tren kebocoran data selama tiga tahun terakhir tersebut cukup mengkhawatirkan, karena peretasan data tidak hanya dialami oleh masyarakat, namun juga instansi pemerintah maupun swasta.

“Kasus kebocoran data pribadi semakin menunjukan urgensi penetapan Rancangan Undang-Undang Data Pribadi (RUU PDP), agar dapat teratasi. Karena yang paling dirugikan adalah masyarakat, dan juga berisiko bagi pemegang data dan pemroses data, yakni instansi pemerintah dan swasta,” pungkasnya.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), jurusan Sistem Informasi (SI), semester empat, Jane Alexandry Yasmine menuturkan, kejahatan dunia maya terjadi disebabkan oleh Information Technology (IT) risk management atau biasa disebut penerapan metode manejemen.

“Risiko teknologi informasi yang belum memadai dalam mengelola IT, menimbulkan kebocoran data pribadi dan scam, sehingga kejahatan tersebut memudahkan proses penyerangan, terutama pada instansi pemerintahan yang memiliki data kependudukan valid,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, langkah yang harus diambil agar tercegah dari kejahatan siber adalah dengan tidak mudah percaya dengan pesan singkat yang menggiring tautan mencurigakan dan memberikan data pribadi ke pihak asing atau situs tidak resmi.

(Luya Alawiya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *