Ulas Ekstrimisme Lewat Webinar Kemanusiaan STF UIN Jakarta

Wakil Rektor bidang Kerja Sama dan Kelembagaan, Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud., saat acara berlangsung


Lembaga sosial kemanusiaan Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta, menyelenggarakan Webinar Kemanusiaan, bertajuk “Menggerus Ekstrimisme Mendorong Kemanusiaan”, pada Selasa (31/8) melalui Zoom dan live streaming YouTube. Selain webinar, agenda tersebut juga dijadikan ajang Penyerahan Beasiswa Mahasiswa Terdampak Covid-19, dan Profesor Azyumardi Azra Scholarship.

Wakil Rektor bidang Kerja Sama dan Kelembagaan, Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud., menyampaikan, bagi seluruh mahasiswa penerima beasiswa, diharapkan agar dapat memegang amanahnya dengan baik, yakni rajin belajar, mampu berprestasi secara akademik ataupun non-akademik, serta aktif di organisasi.

“Saya harap, para penerima beasiswa mampu menyelesaikan masa studi kurang dari empat tahun, serta menjadi panutan anak muda dalam pengembangan Islam dan integrasi dengan keilmuan juga keindonesiaan,” ujarnya.

Dewan Penasihat Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Prof. Dr. Jamhari Maruf menyatakan, pandangan ekstrim tidak hanya terjadi pada agama tertentu, tetapi hampir di segala agama. Gerakan ekstrimisme berbahaya, lantaran menggunakan tafsir tunggal, yaitu kebenaran yang hanya menurutnya saja.

“Apabila terdapat orang lain yang tidak sepaham, maka akan dimusuhi dan dianggap kafir. Padahal, orang yang tidak menghargai perbedaan merupakan individu yang menolak takdir tuhan. Dengan demikian, saya harap mahasiswa penerima beasiswa dapat menjadi garda untuk mengikis ekstrimisme,” pungkasnya. Download 1xbet app here 1xbet app

Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia, Surya Rahman Muhammad mengungkapkan, penyebab beberapa orang menjadi ekstrim adalah ketertutupan, rendah kepedulian, keinginan untuk purifikasi, serta rendahnya keterpaparan tentang keberagaman ataupun kemanusiaan.

“Dalam mengatasi hal tersebut, maka strategi antisipasi radikalisme dan ekstrimisme yang dapat dilakukan, yaitu promosi nilai, norma, prinsip kemanusiaan, pengembangan platform atau kanal kolaborasi, koordinasi, komunikasi dan berbagi informasi, serta fasilitasi atau meditasi,” ungkapnya.

(Subandi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *