Implementasi Ideologi Pancasila Melalui Sejarah G30S/PKI

Monumen Pancasila Sakti. Sumber foto: sumbarpemprov.go.id


Partai Komunis Indonesia (PKI), merupakan partai politik yang dibentuk pada 23 Mei 1914 dan dibubarkan pada 12 Maret 1966. Pada masa itu, PKI pernah menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia sebelum akhirnya dilarang dan dibubarkan. Hingga pada 1965, terjadi pemberontakan PKI pada 30 September atau sering dikenal dengan peristiwa G3OS/PKI.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Program Studi (Prodi) Sejarah dan Peradaban Islam (SPI), Johan Wahyudi, M.Hum., menyampaikan, makna adanya peristiwa tersebut merupakan cerminan bagi masyarakat Indonesia, karena terdapat tragedi yang memilukan bahkan merenggut ribuan nyawa akibat faktor perbedaan ideologis.

“Jika melihat buku sejarah, terdapat perspektif antara kebenaran dan kesalahan. Akan tetapi, kita sebagai masyarakat dapat memaknai peringatan tersebut sebagai momentum keragaman yang ada di Indonesia, terutama dalam bidang politik. Karena itu, sebagai bangsa yang berkembang, perlu adanya edukasi sejarah sebagai kaca penggala sehingga dapat dijadikan sebagai alat intropeksi,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, seharusnya peristiwa G30S/PKI dijadikan pembelajaran untuk menghindari berbagai macam kekerasan dalam menyuarakan aliran politk. Selain itu, peristiwa tersebut tidak dapat terjadi jika masing-masing pihak dapat menahan diri, dan berkompetisi secara sehat dalam panggung politik tersebut.

Pengurus Organisasi Himpunan Mahasiswa Program studi (HMPS) SPI, Fauzi Rivai  mengatakan, mahasiswa memiliki peran penting untuk mengkritisi G30S/PKI, yang mana dapat dijadikan sebagai wadah pengetahuan untuk lebih giat menelaah kembali sejarah tersebut, di dalam buku-buku bacaan dengan pandangan yang berbeda sehingga menghasilkan objektivitas dalam sejarah.

“Dengan terjadinya peristiwa tersebut dapat ditarik maknanya, bukan hanya dalam sisi negatif akan adanya kebencian, akan tetapi sebagai mahasiswa kita perlu mencari tahu secara mendalam akan adanya peran PKI, contohnya seperti buku karya Tan Malaka yang saat ini dijadikan buku referensi akan pengertian ideologi yang sebenarnya,” tutupnya.

(Juva Salma Chotika)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *