Tingkatkan Pengetahuan dan Kesadaran Terkait Kekerasan Seksual Anak

Ilustrasi kekerasan seksual anak. Sumber foto: sehatq.com


Belakangan ini, kasus kekerasan seksual di Indonesia terhadap anak di bawah umur mulai terungkap ke publik. Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengklaim kasus kekerasan kekerasan seksual berdasarkan jenisnya mengalami penurunan di 2021. Meski begitu, permasalahan kekerasan seksual tersebut perlu diatasi bersama secara efektif agar anak dapat aman dan terlindungi.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PIAUD), semester lima, Kotrun Nada, mengatakan, penyebab munculnya kekerasan pada anak berawal dari kurangnya pengawasan orang tua dan masih rendahnya perhatian dari lingkungan sekitar, sehingga anak yang menjadi korban tidak memiliki andil terhadap yang dialaminya.

“Sejauh ini, untuk kasus kekerasan di lingkungan sekitar rumah cukup dibilang aman, namun dengan adanya metode survei dan hasil laporan terkait kasus kekerasan, memudahkan masyarakat dan warga setempat untuk mengetahui sejauh mana tingkat kekerasan di Indonesia,” ujarnya.

Mahasiswa Fakultas Psikologi (FPsi), jurusan Psikologi, semester lima, Radita Pratama Putri, mengatakan, kasus kekerasan seksual di Indonesia belum sepenuhnya menurun. Karena, masih terdapat kemungkinan masyarakat memilih enggan dan menutup diri terhadap pengetahuan seks.

“Di Indonesia pembelajaran tentang seksual masih tabu dibahas secara terbuka, sehingga stigma yang berkembang di masyarakat tentunya mempengaruhi pola pikir seseorang. Metode survei dan hasil laporan kekerasan saja belum dapat dinilai efektif, karena sering kali kasus kekerasan seksual direspon serius setelah ramai diperbincangan publik,” ujarnya.

(Devi Sylvia Hasanah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *