Kekerasan Supir Taksi Online, Perusahaan Diharapkan Lakukan Pengawasan Pada Karyawan

Taksi online. Sumber foto: m.otoloka.id


Tengah viral di media sosial kasus kekerasan yang menimpa wanita penumpang taksi daring. Persoalan demikian, mengindikasikan sebuah instansi tidak cukup hanya mementingkan kemampuan pada bidang yang diperlukan saat merekrut karyawan, guna menjaga eksistensi dan memenuhi kepentingannya. Lantas, apa hal lain yang perlu diperhitungkan dan bagaimana agar terhindar dari kasus tersebut?

Mahasiswa Fakultas Ushuludin (FU) jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester lima, M. Ajril Mually menuturkan, hal lain yang patut diperhitungkan suatu instansi ketika merekrut karyawan ialah sikap. Menurutnya, skill memang dibutuhkan, tetapi sikap yang baik baginya semua orang wajib memiliki.

“Pada dasarnya masyarakat saat ini membutuhkan jasa taksi online, sehingga akan tetap menggunakan jasa perusahaan yang terlibat kasus tersebut, meski perubahan stigma masyarakat akan tetap ada. Maka, salah satu cara instansi untuk mengetahui sikap karyawan, yaitu dengan melakukan percobaan dan pengawasan terlebih dahulu sebelum resmi jadi pegawai,” tuturnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) semester lima, Indry Stefany mengungkapkan, penumpang perlu waspada agar kasus serupa dapat terhindari. Apabila hanya seorang diri, dianjurkan menggunakan kendaraan umum atau memilih ojek online.

“Adanya kasus ini tentu menjadi kekhawatiran, karena menaiki taksi online bersama teman atau saudara tidak menjamin bebas dari kejahatan ataupun kekerasan. Selain itu, muncul juga ketakutan ketika menaiki kendaraan umum yang sepi penumpang,” ungkapnya.

(Subandi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *